Ada pepatah yang mengatakan “Diam itu emas” tapi hari ini aku baru menyadari bahwa ternyata “Diam itu juga melukai.” Ternyata hanya dengan diam saja, kita juga bisa melukai hati orang.
Kemarin siang aku bertengkar mulut dengan Oma-ku. Masalah sepele. Dia minta aku pergi ke luar negri lagi, kemana pun, terserah aku.
Sedangkan aku sendiri sudah melupakan keinginanku untuk pergi ke luar negeri. Bukan apa apa, hanya saja saat ini aku sudah kehabisan modal kalau ingin pergi merantau lagi. Sisa uang yang ada saat ini ingin aku jadikan modal buka usaha di Jakarta, yang sudah jelas-jelas biaya hidupnya lebih murah dari negara-negara lain.
Bahasanya yang keras membuat aku tersinggung.
Akhirnya keluar juga pernyataan dari mulutku:
“Kenapa sih, Oma jadi seakan-akan ingin mengusirku dari rumah? .... Kalau memang tidak ingin aku tinggal di rumah lagi, it’s OK. Aku akan pergi sekarang juga.”
Dia menangis karena kata-kataku.
Dan barulah dia menceritakan yang sebenarnya.
................
...........
.......
...
Dia merasa cemas.
Mamiku juga.
Mereka merasa bersalah.
Dan semua kecemasan dan rasa bersalah itu disebabkan oleh “KEBISUAN”ku.
Aku yang memang tidak pernah menceritakan masalah-masalahku, impian-impianku, dan semua “tentang aku” kepada keluargaku sendiri, ternyata membuat mereka benar-benar mencemaskan aku. Ternyata ada perasaan bersalah yang menjalar di hati mereka.
Memang karena kesalahan di masa lampau, aku hidup sedikit luar biasa. Tapi semua kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu BUKAN lah penyebab aku menjadi pecinta sesama jenis.
Aku berani bersumpah untuk itu.
Aku sendiri masih tetap belum berani mengatakan apa-apa. Karena ada perasaan bersalah juga jauh di lubuk hatiku. Tapi BUKAN merasa bersalah karena aku pecinta sesama jenis.
Aku merasa bersalah, karena aku membuat mereka merasa bersalah.
Aku merasa bersalah, karena dari kecil aku tidak bisa seperti yang mereka harapkan.
Aku merasa bersalah, karena ternyata misteri kepergianku ke China, yang sangat mendadak, sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar untuk mereka.
Aku merasa bersalah, karena ternyata aku belum bisa mempercayai mereka untuk mengenal aku lebih jauh. Padahal aku berani tampil di depan orang lain. Padahal aku berani jujur kepada pamanku, yang hanya sepupu dari mamiku.
Sekarang semuanya menjadi terluka.
Oma-ku terluka.
Mami-ku terluka.
Adik-adik-ku, keluargaku.
Aku sendiri terluka.
Dan semuanya hanya karena KEBISUAN, yang aku tidak tahu bagaimana harus menghancurkannya.
.....................
.................
.............
.........
.....
Tuhan, bagaimana harus memulai menceritakan semua ini kepada mereka??
Aku bingung…
Tolong aku…
Grey_S
Kemarin siang aku bertengkar mulut dengan Oma-ku. Masalah sepele. Dia minta aku pergi ke luar negri lagi, kemana pun, terserah aku.
Sedangkan aku sendiri sudah melupakan keinginanku untuk pergi ke luar negeri. Bukan apa apa, hanya saja saat ini aku sudah kehabisan modal kalau ingin pergi merantau lagi. Sisa uang yang ada saat ini ingin aku jadikan modal buka usaha di Jakarta, yang sudah jelas-jelas biaya hidupnya lebih murah dari negara-negara lain.
Bahasanya yang keras membuat aku tersinggung.
Akhirnya keluar juga pernyataan dari mulutku:
“Kenapa sih, Oma jadi seakan-akan ingin mengusirku dari rumah? .... Kalau memang tidak ingin aku tinggal di rumah lagi, it’s OK. Aku akan pergi sekarang juga.”
Dia menangis karena kata-kataku.
Dan barulah dia menceritakan yang sebenarnya.
................
...........
.......
...
Dia merasa cemas.
Mamiku juga.
Mereka merasa bersalah.
Dan semua kecemasan dan rasa bersalah itu disebabkan oleh “KEBISUAN”ku.
Aku yang memang tidak pernah menceritakan masalah-masalahku, impian-impianku, dan semua “tentang aku” kepada keluargaku sendiri, ternyata membuat mereka benar-benar mencemaskan aku. Ternyata ada perasaan bersalah yang menjalar di hati mereka.
Memang karena kesalahan di masa lampau, aku hidup sedikit luar biasa. Tapi semua kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu BUKAN lah penyebab aku menjadi pecinta sesama jenis.
Aku berani bersumpah untuk itu.
Aku sendiri masih tetap belum berani mengatakan apa-apa. Karena ada perasaan bersalah juga jauh di lubuk hatiku. Tapi BUKAN merasa bersalah karena aku pecinta sesama jenis.
Aku merasa bersalah, karena aku membuat mereka merasa bersalah.
Aku merasa bersalah, karena dari kecil aku tidak bisa seperti yang mereka harapkan.
Aku merasa bersalah, karena ternyata misteri kepergianku ke China, yang sangat mendadak, sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar untuk mereka.
Aku merasa bersalah, karena ternyata aku belum bisa mempercayai mereka untuk mengenal aku lebih jauh. Padahal aku berani tampil di depan orang lain. Padahal aku berani jujur kepada pamanku, yang hanya sepupu dari mamiku.
Sekarang semuanya menjadi terluka.
Oma-ku terluka.
Mami-ku terluka.
Adik-adik-ku, keluargaku.
Aku sendiri terluka.
Dan semuanya hanya karena KEBISUAN, yang aku tidak tahu bagaimana harus menghancurkannya.
.....................
.................
.............
.........
.....
Tuhan, bagaimana harus memulai menceritakan semua ini kepada mereka??
Aku bingung…
Tolong aku…
Grey_S
Read more......


